Pages

1/20/2016

KAMU


#BAB 1
Buku Ungu

            Jam 09.35 kurang 5 menit lagi waktu istirahat. Sudah sekitar dua jam tiga puluh menit pelajaran matematika menjajah aku dan teman-teman aku. Aku melihat kekanan barisan depan yang diisi oleh kalangan anak-anak yang tidak suka bercanda atau  anak-anak yang taat peraturan atau bisa juga dibilang anak penguasa rangking satu sampai lima masih terlihat focus belajar meskipun aku tau mereka jenuh tapi mereka gengsi untuk terlihat lelah. Aku pun melihat barisan belakang perbedaan sangat mencolok posisi tubuh sudah tidak terkontrol lagi ada yang menempel dengan meja, ada yang sok ngangguk-ngangguk, dan ada juga yang tertidur tapi hanya anak yang bernyali besar saat pelajaran matematika bisa tidur. Aku pun sudah tidak tentu arah, beruntung aku duduk sebangku dengan teman aku yang sudah dua tahun aku sekelas dan duduk sebangku dengannya. Aku dan teman sebangku aku punya komitmen yang tertulis diatas buku khusus pelajaran matematika, kimia, dan fisika jika diantara kami sudah ada yang mulai ngantuk maka salah satu dari kami akan memukul wajah tidak kencang tapi lumayan buat bikin kaget dan aku beruntung selama dua tahun aku lebih banyak yang memukul.


            Kringggg…….. !!!! Jam 09.40 Bel berbunyi tanda istirahat. Akhirnya kemerdekaan kami dapatkan selama dua jam setengah kami terjajah, selama dua jam setengah kami menahan lapar selama dua jam setengah bangku barisan kedua yang sepanjang pelajaran lebih sering ngaca, dan selama dua jam setengah sudah tiga kali aku memukul teman sebangku. Perjuangan kami telah usai kami telah merdeka masing – masing anak sudah punya rencana buat menikmati kemerdekaannya sedangkan aku masih duduk masih membayangkan beberapa minggu lalu setiap istirahat tiba ada wanita yang selalu setia datang ke kelas saya membawakan makanan ataupun mengajak ke kantin bersama. Sangat indah waktu itu menjadi pusat perhatian ketika aku dan dia berjalan dilorong melewati beberapa kelas, tangan aku menggenggam tangan dia ketika ada yang melihat kita melepas genggaman. “Kamu mau makan apa?” katanya, “ aku makan mie goreng aja bakwan tiga tapi aku bayar bakwannya satu aja” kujawab. “hahaha… terus gak minum?”dia ketawa. “kamu aja yang beli minum nanti klo udah abis aku refill aja”. “hahaha…aku puasa.” dia ketawa. “ tadi kita udah pegangan tangan, kamu makruh” kataku. “ aku puasa minum khusus hari ini ” katanya. “ hahha… aku sayang kamu khusus hari ini ” kataku. Rambutku diusap-usap dia senyum.

            Lima menit aku masih didalam kelas hanya ada aku dan satu teman aku yang setiap istirahat memang selalu dikelas, selama dua tahun bisa dihitung kapan dia kekantin. Dari jendela aku masih melihat iya kamu yang hanya berjarak satu buah tembok yang memisahkan kelas kita. Kamu yang sangat aku suka ketika aku bercerita kamu diam menatap aku lalu kamu hanya membalas dengan senyuman tanpa banyak bicara. Kamu yang membuat aku terlihat istimewa didepan teman kamu. Kamu yang membuat semua guru selalu menanyakan  kita. Kamu yang disaat pertama kita kenal aku selalu membawa kamus untuk sms dengan bahasa inggris. Kamu yang sangat indah pada waktu itu. Kini, aku hanya bisa melihat kamu dari jauh, aku hanya bisa mendengar tentang kamu,  dan memang saja yang pada akhirnya kita memilih untuk tidak lagi saling membahagiakan.

            Sepuluh menit waktu istirahat sebentar lagi usai. aku mengajak teman aku kekantin tapi tetap saja dia tidak mau. Langkahku terasa berat untuk keluar dari kelas melewati kelas tempat biasa aku nunggu kamu saat pulang sekolah tiba. Tanpa sengaja baru saja aku keluar depan kelas aku menabrak seorang bukunya terjatuh. Ternyata seorang wanita yang belum sekalipun aku melihat dia. Kalo skala 1-10 aku kasih nilai wanita itu 8 sangat sempurna dilihat. Kalopun aku sudah kenal lebih dengan dia pasti aku kasih nilai 10. “maaf..maaf..” kuambil bukunya. “ iya gapapa kok ka” katanya. “ mau cari siapa ya? ” kataku. “ sebenernya gak mau cari siapa-siapa cuma ada tugas buat wawancara kakak kelas, tapi karena aku udah lihat kakak aku minta tolong deh bantuin aku ya. “ katanya. “ ya boleh saja. “ kataku. “ tapi gini kak, aku minta kakak jawab yang jujur yaa. Soalnya tadi temen-temen aku wawancara tapi banyak jawabannya yang gak bener.” Kata dia dengan suara yg agak sedikit ngebass namun manja. “hmm… tapi kayanya gak usah wawancara deh, kakak jawab aja pertanyaan dirumah, besok bukunya kakak kasihkan ke kamu lagi” kataku yang sengaja bilang begitu untuk menghilangkan rasa gugup dan satu lagi yang penting supaya besok aku masih lihat dia lagi. “ohh yaudah gapapa deh kak, yang penting kakak jawab yang bener yaa, yaudah makasih banyak yaa kak.” Katanya dengan suara yang khas membuat aku semakin rindu akan hari esok. “ hehehe iyaa siap. “ jawabku yang tiba-tiba rasa lapar aku hilang menjadi rasa rindu. Ku pegang buku itu, buku bersampul ungu dengan sampul plastik ada kertas kecil didepannya itu adalah sebuah nama. Nama yang sangat indah dan sangat jarang terdengar tapi apalah arti sebuah nama ketika sebuah pertemuan pertama sudah membuat aku suka dengannya meski belum cinta aku yakin nanti atau lusa kamu sudah mencintaiku kok.

            Jam 19.35 selesai aku makan malam, aku inget kalo tadi disekolah ada tugas yang maha penting memang bukan dari seorang guru tapi dari kamu yang tercantik dengan rambut model cepol, aku yakin jika semua lelaki di dunia ini bisa lihat kamu pasti iri sama aku yang tadi siang kita hanya berjarak satu ubin saja.


0 komentar:

Posting Komentar