#BAB 1
Buku Ungu
Jam
09.35 kurang 5 menit lagi waktu istirahat. Sudah sekitar dua jam tiga puluh
menit pelajaran matematika menjajah aku dan teman-teman aku. Aku melihat
kekanan barisan depan yang diisi oleh kalangan anak-anak yang tidak suka
bercanda atau anak-anak yang taat
peraturan atau bisa juga dibilang anak penguasa rangking satu sampai lima masih
terlihat focus belajar meskipun aku tau mereka jenuh tapi mereka gengsi untuk
terlihat lelah. Aku pun melihat barisan belakang perbedaan sangat mencolok
posisi tubuh sudah tidak terkontrol lagi ada yang menempel dengan meja, ada
yang sok ngangguk-ngangguk, dan ada juga yang tertidur tapi hanya anak yang
bernyali besar saat pelajaran matematika bisa tidur. Aku pun sudah tidak tentu
arah, beruntung aku duduk sebangku dengan teman aku yang sudah dua tahun aku
sekelas dan duduk sebangku dengannya. Aku dan teman sebangku aku punya komitmen
yang tertulis diatas buku khusus pelajaran matematika, kimia, dan fisika jika
diantara kami sudah ada yang mulai ngantuk maka salah satu dari kami akan
memukul wajah tidak kencang tapi lumayan buat bikin kaget dan aku beruntung
selama dua tahun aku lebih banyak yang memukul.
Kringggg……..
!!!! Jam 09.40 Bel berbunyi tanda istirahat. Akhirnya kemerdekaan kami dapatkan
selama dua jam setengah kami terjajah, selama dua jam setengah kami menahan
lapar selama dua jam setengah bangku barisan kedua yang sepanjang pelajaran
lebih sering ngaca, dan selama dua jam setengah sudah tiga kali aku memukul
teman sebangku. Perjuangan kami telah usai kami telah merdeka masing – masing
anak sudah punya rencana buat menikmati kemerdekaannya sedangkan aku masih
duduk masih membayangkan beberapa minggu lalu setiap istirahat tiba ada wanita
yang selalu setia datang ke kelas saya membawakan makanan ataupun mengajak ke
kantin bersama. Sangat indah waktu itu menjadi pusat perhatian ketika aku dan
dia berjalan dilorong melewati beberapa kelas, tangan aku menggenggam tangan
dia ketika ada yang melihat kita melepas genggaman. “Kamu mau makan apa?”
katanya, “ aku makan mie goreng aja bakwan tiga tapi aku bayar bakwannya satu
aja” kujawab. “hahaha… terus gak minum?”dia ketawa. “kamu aja yang beli minum
nanti klo udah abis aku refill aja”. “hahaha…aku puasa.” dia ketawa. “ tadi
kita udah pegangan tangan, kamu makruh” kataku. “ aku puasa minum khusus hari
ini ” katanya. “ hahha… aku sayang kamu khusus hari ini ” kataku. Rambutku
diusap-usap dia senyum.
Lima
menit aku masih didalam kelas hanya ada aku dan satu teman aku yang setiap
istirahat memang selalu dikelas, selama dua tahun bisa dihitung kapan dia
kekantin. Dari jendela aku masih melihat iya kamu yang hanya berjarak satu buah
tembok yang memisahkan kelas kita. Kamu yang sangat aku suka ketika aku
bercerita kamu diam menatap aku lalu kamu hanya membalas dengan senyuman tanpa
banyak bicara. Kamu yang membuat aku terlihat istimewa didepan teman kamu. Kamu
yang membuat semua guru selalu menanyakan kita. Kamu yang disaat
pertama kita kenal aku selalu membawa kamus untuk sms dengan bahasa inggris.
Kamu yang sangat indah pada waktu itu. Kini, aku hanya bisa melihat kamu dari
jauh, aku hanya bisa mendengar tentang kamu,
dan memang saja yang pada akhirnya kita memilih untuk tidak lagi saling membahagiakan.
Sepuluh
menit waktu istirahat sebentar lagi usai. aku mengajak teman aku kekantin tapi
tetap saja dia tidak mau. Langkahku terasa berat untuk keluar dari kelas
melewati kelas tempat biasa aku nunggu kamu saat pulang sekolah tiba. Tanpa
sengaja baru saja aku keluar depan kelas aku menabrak seorang bukunya terjatuh.
Ternyata seorang wanita yang belum sekalipun aku melihat dia. Kalo skala 1-10
aku kasih nilai wanita itu 8 sangat sempurna dilihat. Kalopun aku sudah kenal
lebih dengan dia pasti aku kasih nilai 10. “maaf..maaf..” kuambil bukunya. “
iya gapapa kok ka” katanya. “ mau cari siapa ya? ” kataku. “ sebenernya gak mau
cari siapa-siapa cuma ada tugas buat wawancara kakak kelas, tapi karena aku
udah lihat kakak aku minta tolong deh bantuin aku ya. “ katanya. “ ya boleh
saja. “ kataku. “ tapi gini kak, aku minta kakak jawab yang jujur yaa. Soalnya
tadi temen-temen aku wawancara tapi banyak jawabannya yang gak bener.” Kata dia
dengan suara yg agak sedikit ngebass namun manja. “hmm… tapi kayanya gak usah
wawancara deh, kakak jawab aja pertanyaan dirumah, besok bukunya kakak kasihkan
ke kamu lagi” kataku yang sengaja bilang begitu untuk menghilangkan rasa gugup
dan satu lagi yang penting supaya besok aku masih lihat dia lagi. “ohh yaudah
gapapa deh kak, yang penting kakak jawab yang bener yaa, yaudah makasih banyak
yaa kak.” Katanya dengan suara yang khas membuat aku semakin rindu akan hari
esok. “ hehehe iyaa siap. “ jawabku yang tiba-tiba rasa lapar aku hilang
menjadi rasa rindu. Ku pegang buku itu, buku bersampul ungu dengan sampul
plastik ada kertas kecil didepannya itu adalah sebuah nama. Nama yang sangat
indah dan sangat jarang terdengar tapi apalah arti sebuah nama ketika sebuah
pertemuan pertama sudah membuat aku suka dengannya meski belum cinta aku yakin
nanti atau lusa kamu sudah mencintaiku kok.
Jam
19.35 selesai aku makan malam, aku inget kalo tadi disekolah ada tugas yang
maha penting memang bukan dari seorang guru tapi dari kamu yang tercantik
dengan rambut model cepol, aku yakin jika semua lelaki di dunia ini bisa lihat
kamu pasti iri sama aku yang tadi siang kita hanya berjarak satu ubin saja.

0 komentar:
Posting Komentar