Pages

4/30/2013

Panasnya Udara, Dinginnya Hati

   Pada suatu hari bumi terasa mengeluarkan asap. Matahari tak lagi bersahabat lagi menjulurkan lidahnya sambil menyemburkan panas. Atmosfer yang sekuat tenaga memeluknya seakan sudah tak sanggup meredam jilatannya. Ketika rumput-rumput yang hijua berubah menjadi kuning kering. Hembusan angin seakan meniup-niup debu sampai ke udara. Cairan tubuh ini seakan berlomba membasahi sekujur tubuh dan membuat kerongkongan terasa kering. lelehan keringat sudah membanjir membentuk suatu pola dipunggung dan lipatan ketiak, menetes sebesar jagung dari kepala turun kemuka. Sungguh siang yang sangat tidak bersahabat.
  

   Ketika panas dan bosan beradu menunjukan kekuatannya, tiba-tiba handphone saya berbunyi tak banyak harapan saya paling juga dari operator atau agen pulsa dan ternyata pesan dari Putri dia memesan keripik saya lagi dan minta dianterin sekarang juga. Sungguh ujian yang sangat berat dimana saya harus melawan panasnya udara atau menganter pesenan dan ketemu dengannya. Akhrinya saya mengantarkan pesanan itu tak banyak kata-kata yang keluar selama kita bertemu hanya senyum dia yang tampak polos dengan sorot mata manja. Sejak saat itu dia menjadi pelanggan saya, karena hampir setiap hari kita ketemu perlahan-lahan rasa itu mulai tumbuh, dia mulai kasih saya perhatian yang lebih dari yang sms bila ada pesanan doang, sekarang dia sudah sms memperhatikan saya sampai ke hal-hal yang kecil.

   Pertemuan sederhana yang nampak istimewa, ketika rasa curiga saya kepadanya menghadirkan suatu keharuan buat saya ketika saya tanyakan "Put, kenapa pesannya hampir setiap hari, bukannya put gak boleh makan pedas yak??" dan dia menjawab "Put pengen ketemu kaka, karena cuma itu alasan put supaya bisa ketemu kaka, dan keripiknya juga bukan put yang makan tapi temen-temen put." mendengar jawaban itu seperti menemukan sop buah dikala adzan magrib untuk berbuka puasa berkumandang, ingin sekali rasanya memeluk tubuh mungilnya tapi apa boleh buat suasana tak mengizinkan. Rasa untuk memilikinya pun semakin besar, saya yang awalnya tak berharap lebih untuk mendapatkanya dan hanya pasrah akan keadaan namun semuanya berubah menjadi 180', dia datang dengan segala keinginan saya dia hadir untuk menyakinkan saya.

Seandainya bisa...
Ingin sekali kuminta waktu...
agar dia berhenti dan menunggu...
merasakan rasa gugup ketika pertama kali tangan kita saling beradu...

0 komentar:

Posting Komentar