Pelajaran terakhir disekolah itu seperti maen di Timezone seharian full bisa menyenangkan banget dan bisa juga sangat membosankan, apalagi kalo pelajaran terakhir itu Matematika atau fisika rasanya itu jam seperti gak muter lama banget. Siang itu gue ngantuk banget apalagi pas istirahat gue suka khilaf kalo udah makan seperti anak-anak yang laen kalo makan di dodo biasanya ambil bakwan 5 bayar cuma 1 itu yang bikin gue khilaf, bener saja abis makan udah perut khilaf, mata gue juga gak bisa diajak kompromi ngantuk banget akhirnya gue coba sholat tapi setelah selesai sholat pun mata gue tetep ngantuk. gue gak tau pelajaran terakhir nanti akan kaya gimana apa gue tertidur pulas atau tertidur males ( tidur setengah-setengah).
Bel masuk pun berbunyi gue duduk dengan rasa ngantuk yang gak bisa dilawan lagi, gue gak peduli dengan pelajaran terakhir ini apalagi setelah setengah jam guru juga belum masuk juga dan gue nyesel waktu setengah jam bukannya gue pake buat tidur malah di buat nungguin guru. Tiba-tiba terdengar suara halus sambil membuka pintu kelas "Assalamualikum, Wie geht's?" sontak anak-anak terdiam. gue baru sadar ternyata pelajaran terakhir ini pelajaran Bahasa Jerman, ini pelajaran bahasa asing kedua yang gue pelajari setelah bahasa inggris. Guru itu memperkenalkan dirinya nama ibu Yuli panggil aja Frau Yuli , Frau itu artinya ibu. Frau adalah kosakata bahasa jerman yang pertama gue tau, lalu beliau menjelaskan maksud pertanyaan yang tadi beliau ucapkan, "Wie geht's itu artinya apa kabar dan yang kalian hanya perlu jawab Danke gut ataupun Prima" beliau mengulang kembali ucapan yang tadi " Wie Geht's?" kali ini anak-anak berteriak "Danke gut" sejak saat itu gue kalo ketemu Frau pasti gue selalu bertanya " Wie geht's, Frau?". beliau begitu sabar dalam memberikan pelajaran yang mungkin bagi semua anak-anak ini pelajaran baru tapi beliau mengajarkannya penuh semangat dan sungguh-sungguh. beliau orangnya suka kerapihan anak-anak aja diwajibkan buku tulisnya di sampul terus pakai sampul platis juga. 30 menit pelajaran ini berjalan rasa ngantuk gue pun hilang seperti tersihir dengan ucapan dan cara mengajar Frau Yuli yang bagi gue beda dengan cara guru yang lain.
Pelajaran Bahasa Jerman menjadi pelajaran idola gue, gue selalu semangat kalo pelajaran ini bisa di bilang gue saat itu jadi orang yang sering tanya jawab dengan Frau Yuli. Nilai Bahasa Jerman gue pun bisa dibilang istimewa nilai gue gak pernah di bawah 80 :)). Gue kagum dengan cara beliau mengajar tidak pernah emosi selalu tersenyum, bahkan saat itu ada temen gue Evan yang tidur di kelas beliau tidak marah malah bilang ke anak-anak jangan dibangunin biarin sampai bel pulang dan yang bikin gue ketawa beliau menerangkan sambil duduk di mejanya Evan lalu buku yang beliau pegang dikipas-kipasin ke Evan. Evan pun terbangun tapi Frau gak marah dia malah bertanya "emang kamu semalam tidur jam berapa??". Gue kagum banget sama guru yang satu ini. Diakhir semester kelas 1 Frau pernah bertanya ke gue "kamu mau masuk kelas mana?" gue jawab " saya pengen masuk IPB Frau", yang anehnya beliau malah menyarankan gue untuk masuk IPA.
Dibalik jawaban Frau yang selalu jawab "Danke Gut" setiap gue tanya "Wie Geht's, Frau?" ternyata tubuh Frau tidak sekuat dengan jawaban yang Frau ucapkan, dia pernah gak masuk kelas 1 bulan lamanya (kalo gak salah). namun guru yang terbaik, guru yang saya kagumi itu sudah berhenti mengajar kami semua, Allah lebih sayang dengan beliau, Allah tellah menciptakan guru yang terbaik untuk mengajari kami. Selamat jalan FRAU. kami semua selalu merindukan Frau, sampai kapanpun Jasa-mu tak akan pernah ternilai dan tak akan pernah terlupakan. Auf Wiedersehen Frau :((.
saya gak pernyah menyangka pertemuan itu menjadi yang terakhir padahal waktu ketemu itu sambil berlari-lari kecil Frau jawab " Danke gut" tak lupa senyuman Frau yang selalu terlihat sehat dan kuat.
ini foto terakhir waktu ketemu Frau, saya nyesel gak sempet foto sama Frau :((.
Belum genap sebulan dari foto itu dapat kabar di Facebook kalo Frau udah gak ada lagi. padahal pengen banget dateng dan ketemu untuk yang terakhir tapi saat itu gue lagi di Jogja.
Auf Wiedersehen Frau
Ms. Wiji (putih) dan Frau Yuli (ijo) guru terbaik buat saya di SMA.
"Frau, terangilah jalan kami"
Dulu kami kosong kami hanya tau Indonesia dan Inggris...
Semua sangat membosankan...
Lalu Engkau datang dengan penuh warna...
Engkau datang dengan sesuatu yang baru bagi kami...
Kami tidak hanya punya dua tapi sekarang kami punya tiga bahasa...
Kekuatan-mu, dan ketulusan-mu membuat kami semua mengerti dengan hal yang baru itu...
Kami tidak mengeluh , justru kami bangga karena kami bisa berkata "Ich Liebe Dich"...
Saat semua terlihat sulit, Engkau datang dengan setitik cahaya yang kami cari yang nampak dari sudut-sudut bibirmu....
Dan dari gerak-gerik tubuhmu engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu, Engkau terangi dengan lenteramu...
Kami akan selalu rindu senyuman-mu...
Terima kasih Ibu, Danke Frau...
Engkau datang dengan sesuatu yang baru bagi kami...
Kami tidak hanya punya dua tapi sekarang kami punya tiga bahasa...
Kekuatan-mu, dan ketulusan-mu membuat kami semua mengerti dengan hal yang baru itu...
Kami tidak mengeluh , justru kami bangga karena kami bisa berkata "Ich Liebe Dich"...
Saat semua terlihat sulit, Engkau datang dengan setitik cahaya yang kami cari yang nampak dari sudut-sudut bibirmu....
Dan dari gerak-gerik tubuhmu engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu, Engkau terangi dengan lenteramu...
Kami akan selalu rindu senyuman-mu...
Terima kasih Ibu, Danke Frau...


0 komentar:
Posting Komentar