Sore itu dengan suhu rata-rata 27' derajat celcius, berlindung dibalik tawa dan bersandar diantara kedua tiang dengan sedikit mata melirik jauh kearah satu titik yang berjarak 112 meter, jauh dibawah alam sadarnya dia berbicara sedikit pelan hampir tidak terdengar mungkin ini yang dimaksud dengan berbicara dalam hati. Dia berkata "Apa mungkin gue bisa miliki dia?" tidak lama dia tersadar karena sepiring nasi goreng dan segeles teh manis yg membangunkan dia dari alam sadarnya. teman-teman memangil dia dengan sebutan "Rosid" yaa itu karena memang nama asli dia.
Rosid pria dengan sejuta keinginan, meski berwajah tampan menurut kedua orang tuanya dan jamilah temen SDnya, Rosid termasuk golongan mampu karena dia bisa duduk dibangku kuliah.
Tepat jam 4 sore Waktu Indonesia Barat Rosid sudah berdiri ditempat yang sama sejak 2 tahun lalu diantara 2 tiang yang menjadi hal rutinnya selain diantara 2 sujud. ada sesuatu yang membuat beberapa minggu ini Rosid tampak terlihat berbeda dari biasanya dia mula keramas 2 hari sekali, rajin menggunakan minyak wangi hingga yang tadi kuliah hanya menggunakan sendal sekarang mulai menggunakan sepatu sendal. Sudah 2 minggu ini dia selalu melihat ke arah yang sama walaupun setiap harinya jarak itu semakin bertambah semeter. Dia mulai merasakan suatu gejolak dimana gejolak yang sudah berbulan-bulan hilang akhirnya datang, yaa dia mulai merasakan hormon dopamine-nya berfungsi lagi dia mulai bersemangat meski nafsu makan menurun. Hatinya terus bertanya-tanya "Apa mungkin dia bisa jadi milik gue?". mulai saat itu berbagai macam cara dia lakukan untuk mencari tau sosok yang setiap harinya semakin jauh beberapa meter. Akhirnya dia tau sosok itu bernama Nia, Fakultas Hukum semester 4. Nia gadis berambut panjang sebahu mempunyai lesung pipi 2 sentimeter, tidak terlalu cantik tapi selalu membuat Rosid sadar kalo dia memang masih normal.
Sudah 4 minggu kurang 7 hari Rosid menjadi Sherlock Holmes beraliran Kharil Gibran, selalu mencari tau tentang sosok Nia. sebagai cowo tertampan kedua di tongkrongan dia tersadar kalau dia harus yang memulai bukan terus menunggu dan mencari tau. Hingga pada suatu saat ada momen jarak yang jaraknya beratus-ratus meter kini hanya tinggal beberapa jengkal orang dewasa saja. tanpa basa-basi dia langsung berkenalan denga Nia. "Hai nama gue Rosid" kata Rosid, "gue Nia" jawab Nia dengan dengan nada datar. Tidak sampai bebicara 1 menit dengan Nia itu sudah membuat Rosid seperti merasakan perjalanan dengan Nia berjam-jam ditambah dengan kemacetan. Setelah kejadian itu rasa ingin memiliki Rosid ke Nia semakin besar, dia mulai mencari media sosial Nia. hal yang paling disesali dia saat siang tadi adalah dia melupakan pelajaran bab 3 tentang sosialisasi ke lawan jenis yaitu kalo berkenalan dengan wanita usahakan tidak hanya tau namanya saja setidaknya dia harus tau PIN BB, atau Nomer telponnya. Rosid mulai bertanya-tanya ke temannya yang kuliah di Fakultas Hukum untuk mencari tau hal yang berbau Nia. Hingga pada akhirnya dia mendapat akun twitter @sayaNiaTapiBukanDaniati, hati dan perasaan Rosid seperti merasakan kemerdekaan yang lepas dari belenggu penjajah. Dia langsung ke warnet langgananya dia langsung memesan paket malam bukan untuk bermain game tapi untuk Stalking akun @SayaNiaTapiBukanDaniati, tidak sampai 10 menit dia membuka akun twitter Nia, kemerdekaan Rosid nampaknya hanya bertahan setengah jam kurang saja sepertinya penjajah kembali menjajah hati dan perasaan Rosid. bukan karena nama akun Nia yang tak sebanding dengan dalamnya lesung pipinya. Di dalam bio Nia tertulis " Cokelatholic, Penyanyang aneka satwa | FAK. HUKUM | ❤ Mugeni |". Kalimat terakhir yang membuat Rosid kehilangan kesadaranya beberapa saat. Meski dia akhirnya tau ternyata Nia sudah mempunyai pacar, Rosid tetep follow dan mention Nia " Flbck yaa gue Rosid yang tadi siang di bawah tiang", gak beberapa lama mention Rosid dibalas Nia "oke fllwd".
Hari ke hari perasaan Rosid campur aduk meski sekarang dia sudah dekat dengan Nia walau hanya di twitter saja. Jarak yang tadinya sangat jauh kini selalu dekat hanya beberapa meja kantin saja yang memisahkan. Jarak yang tadinya jauh dan selalu berkata "Apa mungkin gue bisa dapetin dia?" tapi sekarang walaupun hanya beberapa meja saja hatinya berkata " Gue suka dia tapi gue bukan siapa-siapa, gue kasihan sama Mugeni". walaupun Rosid sadar kalo dia berusaha pasti dia bisa dapatin Nia, dengan segala kelebihan yang dimiliki Rosid pasti cewe manapun jatuh hati kepadanya. Rosid sadar kalo dia lelaki normal dia tau perasaan Mugeni, kalo gue memaksakan dan berusaha mungkin gue bisa dapetin Nia. sebagai lelaki dia mengerti bilamana dia jadi Mugeni pasti bakalan merasakan kegalauan berkepanjangan wanita yang sudah lama dia cintai dengan segala pengorbanannya kini pindah ke lain hati. Rosid bukanlah sahabat Mugeni, kenal pun juga tidak. Sejak saat itu Rosid sudah mulai melupakan Nia , dia sadar tidak mau menjadi pengganggu hubungan orang lain dan yang lebih membuat dia harus bener-bener melupakan Nia adalah karena dia cowo , dia tidak mau menyakiti "perasaan sesama cowo" melihat Mugeni yang sangat bahagia dengan Nia bagi Rosid itu seperti kebahagian mikro, Rosid tau dia yang harusnya menciptakan kebahagian bagi dia merusak kebahagian orang lain itu bukanlah menciptakan tapi seperti membuat kiamat kecil.
Beberapa minggu setalah kejadian itu Rosid tetap berada ditempat yang sama hanya saja kini Rosid tidak terlalu sering melihat sosok beberapa meter itu yang selalu bersama dengan "Sahabat baru Rosid". kini pandangan Rosid fokus kearah 45 derajat dengan hanya beberapa detik saja mungkin Rosid sudah bisa merasakan kembali Hormon Dopamine-nya, tapi dia tidak mau terlalu terburu-buru dan biarkan waktu yang menjawab sampai suatu hari pasti Rosid bisa menciptakan kebahagian itu.

0 komentar:
Posting Komentar